Daftar Blog Saya

Kamis, 26 Mei 2011

makalah tentang masyarakat perkotaan dan pedesaan

nya usaha untuk menguasainya. Mereka hanya menghadapi alam itu dengan bergotong-royong, mereka sadar. bahwa dalam hidup itu pada hakikatnya tergantung pada sesama.
1. MASYARAKAT PERKOTAAN
Masyarakat perkotaan sering disebut urban communiti. Pengertian masyarakat kota lebih ditekan pada sifat-sifat kehidupannya serta ciri kehidupan yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Perhatian husus masyarakat kota tidak terbatas pada aspek-aspek serta pakaian, makanan dan perumahan, tetapi mempunyai perhatian yang luas misalnya kalau menghidangkan makanan, yang di utamakan adalah bahwa makanan yang dihidangkan tersebut memberikan kesan bahwa yang menghidangkannya mempunyai kedudukan sosial yang tinggi. Bila ada tamu, di usahakan menghidangkan makanan yang ada dalam kaleng, demikian pula masalah pakaian dianggap sebagai alat kebutuhan sosial.



Ciri-ciri masyarakat kota yang menonjol adalah :
a. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan didesa.kegiatan hanya tampak ditempat-tempat peribadatan.sedangkan diluarnya,masyarakat berada pada lingkungan ekonomi,yang lebih cendrung pada duniawi.
b. Orang-orang kota pada umumnya bersifat individualitas.Dikota-kota kehidupan keluarga yang sulit untuk disatukan karena perbedaan agama,paham politik,dan kepentingan.
c. Pembagian tugas lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
d. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan lebih banyak diperoleh warga kota daripada warga desa.
e. Jalan fikiran yang rasional menyebabkan interaksi-interaksi yang terjadi lebih di dasarkan pada faktor kepentingan daripada pribadi.
f. Jalan kehidupan yang cepat dikota-kota mengakibatkan pentingnya faktor waktu untuk dapat mengejar kebutuhan-kebutuhan seorang individu.
g. Perubahan-perubahan sosial nampak dengan nyata,sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.
Untuk menunjang aktifitas warganya serta untuk memberikan suasana aman,tentram dan nyaman,kota dihadapkan pada keharusan menyediakan berbagai fasilitas kehidupan dan keharusan untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul sebagai akibat dari aktifitas warganya.
Perkembangan kota merupakan manifestasi dari pola kehidupan sosial,ekonomi,kebudayaan dan politik yang akan dicerminkan dalam komponen-komponen yang membentuk struktur kota tersebut.
Jumlah dan kualitas komponen suatu kota sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pertumbuhan kota tersebut.Secara umum, perkotaan mengandung 5 unsur diantaranya;
1. Wisma, merupakan bagian ruang kota yang dipeergunakan untuk tempat berlindung terhadap alam sekelilingnya.
2. Karya, merupakan syarat utama bagi eksistensi suatu kota, karena unsur ini merupakan jaminan bagi kehidupan bermasyarakat.
3. Marga, merupakan ruang kota yang berfungsi untuk menyelenggarakan hubungan internal dan eksternal seperti; terminal,parkir,telekomunikasi yang meerata.
4. Suka, merupakan bagian dari ruang perkantoran untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan fasilitas-fasilitas hiburan,rekreasi,pertamanan,kebudayaan dan seni.
5. Penyempurnaan, merupakan bagian yang penting dari suatu kota, tetapi belum secara tepat tercakup dalam keempat unsur diatas seperti fasilitas keagamaan,pendidikan, kesehatan, dan jaringan fasilitas umum.
Pecahan masalah-masalah tersebut atau pencapaian persyaratan diatas,hendaknya dituangkan dalam suatu kebijaksaan dasar yang dikaitkan dengan pengembangan wilayah dan interaksi kota dan sekitarnya secara berimbang dan harmonis.Maka fungsi dan tugas aparatur pemerintah harus ditegaskan:
a. Aparatur kota harus dapat menangani berbagai masalah dikota.
b. Kelancaran dalam pelaksanaan pembangunan tata kota harus dikerjakan dengan cepat dan tepat, agar tidak disusul dengan masalah lainnya.
c. Dalam rangka pemekaran kota, harus ditingkatkan kerja sama yang baik antara para pemimpin dikota dengan para pemimpin di tingkat kabupaten.
Oleh karena itu maka kebijaksanaan perencanaan dan mengembangkan kota harus dilihat dalam rangka pendekatan yang luas yaitu pendekatan regional.
Rumusan pengembangan kota seperti itu tergambar dalam pendekatan,penanganan kota:
a. Mengalihkan pusat pembangunan parik (industri) kepinggiran kota.
b. Membendung orbanisasi.
c. Mendirikan kota satelit dimana pembukaan usaha relatif rendah.
d. Meningkat peranan kota – kota kecil atau desa – desa yang telah ada di kota besar.
e. Transmigrasi bagi warga yang miskin dan tidak mempunyai pekerjaan.
Di pihak lain kota juga mempunyai peran atau fungsi eksternal, yakni beberapa jauh fungsi dan peran kota tersebut dalam kerangka wilayah dan kerangka – kerangka yang melingkupinya, baik dalam skala regional maupun nasional. Dengan harapan ini bahwa suatu pengembangan kota tidak mengarah pada suatu organ tersendiri yang terpisah dengan daerah sekitarnya, karena keduanya saling berpengaruhi.
3. PERBEDAAN MASYARAKAT PERKOTAAN DAN PEDESAAN
Ada beberapa ciri yang dapat digunakan sebagai petunjuk untuk membedakan antara masyarakat kota dan desa. Ciri-ciri tersebut seperti dinyatakan oleh Bintarto, antara lain sebagai berikut:
No
Unsur-Unsur Pembeda
Desa
Kota
1
Mata pencaharian
Agraris homogen
Non agraris hitrogen
2
Ruang kerja
Lapangan terbuka
Lapangan tertutup
3
Musim/cuaca
Penting dan menentukan
Tidak menentukan
4
Keahlian / ketermpilan
Umum dan tersebar
Ada spesialisasi
5
Rumah dan tempat kerja
Dekat
Berjauhan
6
Kepadatan penduduk
Tidak padat
Padat
7
Kontak sosial
Frekwensi kecil
Frekwensi besar
8
Lembaga-lembaga
Terbatas dan sederhana
Banyak dan kompleks
9
Startifikasi sosial
Sederhana dan sedikit
Kompleks dan banyak
10
Kontrol sosial
Adat atau tradisi
Hukum peraturan tertulis
11
Sifat kelompok
Gotong-royong(Gemeinschaft)
Gesellschaf
12
Mobilitas
Rendah
Tinggi
13
Status sosial
Stabil
Tidak stabil

Disamping itu juga, lingkungan hidup di pedesaan sangat jauh berbeda dengan perkotaan. Lingkungan pedesaan terasa lebih dekat dengan alam bebas. Udaranya bersih sinar matahari cukup, tanahnya segar diselimuti berbagai jenis tumbuh-tumbuhan dan berbagai satwa yang terdapat di sela-sela pepohonan,dan air yang menetes atau memancar dari sumbernya kemudian mengalir melalui anak-anak sungai mengairi petak-petak persawahan. Semua ini sangat berlainan dengan lingkungan perkotaan yang sebagian besar dilapisi aspal dan beton . Bangunan menjulang tinggi saling berdesakan dan kadang-kadang berdampingan dan berhimpitan dengan gubuk-gubuk liar dan pemukiman yang padat. Udara yang sering terasa pengap karena tercemar asap buangan cerobong pabrik dan kendaraan bermotor. Kota sudah terlalu banyak mengalami sentuhan teknologi,sehingga penduduk kota merindukan alam kadang-kadang memasukkan sebagian alam kerumahnya baik yang berupa tumbuh-tumbuhan bahkan mungkin gambarnya saja.
Didesa juga, jumlah ataupun jenis barang yang tersedia dipasaran sangat terbatas. sedangkan dikota tersedia berbagai jenis barang yang jumlahnya melimpah serta tempat penjualan yang beraneka ragam,ada barang yang dijual di pasar dimana biasanya pembeli dapat tawar- menawar dengan penjual atau dijual di supermarket dalam suasana yang nyaman dan harga yang pasti. Bidang produksi dan jalur distribusi lebih kompleks sehingga memerlukan tingkat teknologi yang lebih canggih.
Beraneka ragamnya corak kegiatan dibidang ekonomi berakibat bahwa sistem stratifikasi sosial di kota lebih kompleks bila dibandingkan dengan desa. Misalnya saja mereka yang memiliki keahlian khusus dan bidang kerja lebih banyak memerlukan pemikiran memiliki kedudukan lebih tinggi dan upah lebih besar daripada mereka yang dalam sistem kerjanya hanya mampu menggunakan tenaga kasarnya saja. Hal ini akan membawa akibat bahwa perbedaan antar pihak kaya dan miskin semakin menyolok.
Pola-pola interaksi sosial antara pedesaan dan perkotaan yang ditentukan oleh struktur sosial yang sangat dipengaruhin oleh lembaga-lembaga sosial adalah sangat berbeda. Pada masyarakat pedesaan yang sangat berperan dalam interaksi dan hubungan sosial adalah motif-motif sosial. Dalam interaksi sosial selalu diusahakan supaya kesatuan sosial tidak terganggu, konflik sosial sedapat mungkin dihindarkan jangan sampai terjadi.
Solidaritas pada masyarakat perkotaan justru terbentuk karena adanya perbedaan-perbedaan dalam masyarakat, sehingga orang terpaksa masuk dalam kelompok-kelompok tertentu, misalnya serikat buruh, himpunan pengusaha, dan lain-lain. Berbeda dengan pedesaan, kekuatan yang mempersatukan mereka timbul karena adanya kesamaan kemasyarakatan seperti kesamaan adat kebiasaan, tujuan serta pengalaman.
4 .HUBUNGAN MASYARAKAT PERKOTAAN DAN PEDESAAN
Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komunitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat, bersifat ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada desa dalam memenuhi kebutuhan waraganya dengan bahan pangan seperti beras, sayur-sayuran, daging dan ikan. Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi jenis pekerjaan yang tertentu di kota, misalnya buruh bangunan, proyek pembangunan jalan, atau tukang becak. Mereka biasanya kerja musiman, pada saat musim, mereka sibuk bekerja disawah.
Sebaliknya, kota menghasilkan barang-barang yang juga yang diperhatikan oleh orang desa seperti bahan pakaian, alat, obat-obatan pembasmi hama pertanian, minyak tanah, obat untuk memelihara kesehatan dan transportasi. Kota juga menyediakan tenaga yang melayani bidang jasa yang dibutuhkan desa tetapi tidak dapat dilakukan sendiri, biasanya tenaga kerja dibidang medis atau kesehatan,montir-montir elektronika dan alat transportasi serta tenaga yang mampu memberikan bimbingan dalam upaya peningkatan hasil pertanian.
Kategori masyarakat desa timbul bila sudah berintegrasi menjdi bawahan penguasa dari luar sistem sosialnya. Kedudukan desa sebagai bagian peradaban yang mensuplai makanan untuk mendukung kelas penguasa politik dan keagamaan serta kaum terpelajar dari suatu tradisi besar. Mengingat masyarakat kota bukan masyarakat homogen maka bahwa jelas sementara kota-kota besar yang mengalami permasalahan besar mencoba membenahi dirinya,sementara calon para pendatang dari daerah pedesaan telah menginterpretasikan rehabilitasi pembangunan di daerah perkotaan sebagai harapan-harapan baru. Disinilah terjadi suatu proses dimana jumlah penduduk kota karena pendatang yang membawa fikiran mengenai harapan baru yang bisa diberikan oleh suatu kota besar akan terus meningkat.
Dari uraian diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa tidak dapat disangkal lagi bahwa hubungan kota dan desa selalu ada terutama dewasa ini dalam mensuplai tenaga kerja kasar. Kota yang membangun serius menyedot banyak tenaga luar dari pedesaan yang memang kelebihan tenaga kerja untuk pekerjaan yang tidak menuntut keterampilan. Bahkan sering kali banyak orang terpaksa harus pergi dari desa ke kota karena didorong oleh keadaan desanya yang tidak memberikan jaminan hidup.
5. URBANISASI DAN URBANISME
a. Urbanisasi
Urbanisasi adalah suatu proses perpindahan penduduk dari kota atau dapat pula dikatakan bahwa urbanisasi merupakan proses terjadinya masyarakat perkotaan. Seorang sarjana lain mengartikan urbanisasi sebagai proses membawa bagian yang sebagian besar dari suatu penduduk untuk berdiam di pusat-pusat perkotaan. Dengan demikian urbanisasi adalah sebagai berikut;
Terjadinya arus perpindahan penduduk dari desa ke kota’
Bertambah besarnya jumlah tenaga kerja nonagraria disektor sekunder(industri) dan sektor tersier(jasa).
Tumbuhnya pemukiman menjadi kota.
Meluasnya pengaruh kota didaerah pedesaan mengenai segi ekonomi,sosial,kebudayaan dan psikologis .
b. Sebab-sebab urbanisasi
Pada dasarnya ada tiga hal utama yang menimbulkan urbanisasi,yaitu;
adanya pertambahan penduduk secara alamiah
terjadinya arus perpindahan penduduk desa ke kota
tertariknya pemukiman pedesaan kedalam lingkup perkotaan, sebagai akibat perkembangan kota yang sangat pesat diberbagai bidang.
c. Akibat-akibat urbanisasi
Salah satu bentuk yang paling nyata dari hubungan antara desa dan kota terwujud dalam proses urbanisasi. Hubungan antara desa dan kota tersebut bersifat timbal balik, dalam arti baik desa maupun kota keduanya saling mempengaruhi. Selanjutnya proses urbanisasi akan menimbulkan akibat lebih jauh lagi, antara lain adalah;
Terbentuknya suburban, tempat-tempat pemukiman baru dipinggiran kota, yang terjadi akibat perluasan kota, karena pusat kota tidak mampu lagi menampung arus perpindahan penduduk desa yang begitu banyak.
Makin meningkatnya tuna karya, yaitu orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap
Pertambahan penduduk kota yang pesat menimbulkan masalah perumahan, orang terpaksa tinggal dirumah-rumah yang sempit dan tidak memenuhi persyaratan kesehatan.
Lingkungan hidup yang tidak sehat, apalagi ditambah dengan adanya kerawanan sosial memberi pengaruh yang negatif terhadap pendidikan generasi muda.
d. Usaha-usaha menanggulangi urbanisasi
Berbagai tindakan dapat dilakukan, baik tindakan jangka pendek maupun jangka panjang, dalam lingkup lokal, nasional, maupun internasional.berbagai tindakan tersebut akan diuraikan secara singkat dibawah ini;
1. Lokal jangka pendek.
Pembersihan daerah-daerah perkampungan melarat yang ada di tengah kota.
Perbaikan kampung melarat, misalnya saja dijakarta banyak proyek yang dibuat lingkungan pemukiman.
Melaksanakan proyek sites and service yaitu pemerintah mengembangkan daerah pemukiman.
Memperluas kesempatan kerja.
2. Lokal jangka panjang
Salah satu diantara keseluruhan masterplan (rencana induk), yaitu himpunan rumusan tindakan yang harus menjaga agar sejumlah faktor seperti; pembangunan perumahan lapangan kerja.
3. Nasional jangka pendek
Pemerintah dapat mengatur masalah migrasi (perpindahan) penduduk dari pedesaan ke kota dengan peraturan perundang-undangan.
4. Nasional jangka panjang
Dalam perencanaan tingkat nasional pada berbagai sektor, proses urbanisasi mendapat perhatian secukupnya. Dalam pengembangan kota, misalnya saja dapat direncanakan tindakan-tindakan sebagai berikut;
Rencana pembangunan kota dengan membangun kota baru.
Rencana pembangunan daerah memusatkan perhatian kepada kota sedang dan kecil
Mengendalikan industrialisasi.
e. Urbanisme
Sejarah perkembangan kehidupan kota tidak mudah dipelajari oleh para sejarah maupun ilmuan, ternyata masih banyak yang belum diketahui dan tidak lengkap. Mengenai kriteria tersebut diatas timbul banyak keberatan antara lain, aspek fisik kota tidak diperhatikan. Louis wirth dalam kertas kerjanya yang berjudul ”urbanis as a way of life” berpendapat bahwa;
Urbanisasi menimbulkan onvasi, spesialisasi, dipersitas, dan anonimitas.Kota dapat menciptakan cara hidup yang berbeda disebut dengan istilah urbanisme.
Luas(size), kepadatan(density) dan heterogenitas(heterogenity) merupakan varibel bebas yang menentukan urbanisme atau gaya hidup kota.

DAFTAR PUSTAKA

- Sulaiman, M.Munandar,MS.IR. Ilmu Sosial Dasar, Bandung: PT Eresco,1995.
- Darmansyah,M.Drs. Ilmu Sosial Dasar, Surabaya: PT Usaha Nasional,1986.
- Noor Arifin. Ilmu Sosial Dasar, Malang: CV.Pustaka Setia,1999.
- Ahmadi Abu, H.Drs. Ilmu Sosial Dasar, Jakarta: Bina Aksara,1988

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar